Selasa, 23 November 2021

Sejarah Bangsa Melayu di Indonesia, Malaysian, Brunei, Singapore

 

#Karah #Melayu

ASAL USUL BANGSA MELAYU


Mengenai asal usul bangsa Melayu kuno sangat sulit ditemui karena sumber-sumbernya tidak banyak ditemukan, baik itu sumber lisan maupun tulisan. 

Menurut pandangan antropologi, bangsa Melayu yang tersebar di Malaysia (15 juta ), Indonesia (8 juta), Thailand (1,9 juta), Singapura (720 ribu), dan Brunei (261 ribu) berasal dari percampuran ras Mongoloid dan Australomelanesia. (Hasan, TT : 31)

Menurut Hendrik Kern dalam Omar (2011: 4), asal usul bangsa Melayu disebut rumpun penutur bahasa Austronesia. Rumpun bahasa Austronesia berasal dari Tonkin, tempat di antara Utara Vietnam dan Selatan China. Ia menganggap bahwa populasi manusia di Tonkin sudah banyak sehingga harus hijrah ke selatan. 

Menurut van Galdern, nenek moyang orang Melayu berhijrah ke Asia Tenggara kira-kira 1.500 tahun lalu. Menurutnya, tanah asal Melayu Deutro adalah Dong Song, di Utara Vietnam dan Yunan selatan China dapat dibuktikan dengan kesamaan budaya. (Omar, 2011 :5)

Menurut istilah, Melayu dikembangkan dari tofonim Mo-lo-yeu. Seorang pendeta Buddha dari China bernama I-Tsing berlayar menuju India, tahun 671 Masehi singgah di Mo-Lo-Yeu (Muljana, 1981)

Selain itu sumber lain menyebut istilah melayu berasal dari nama sungai Melayu. Sumber  dari Col Greany dikutip dari kitab Undang-undang Siam, dikatakan ada kerajaan Melayu tahun 677 Masehi di sungai Melayu.

Nama melayu dapat ditemukan di percandian Muara Jambi. Nama Melayu ada yang ditulis Malayur, Malayu/Melayu, Ma-Li-Yu-Eul (versi China), dan Malaiur (versi Marcopolo).

BERIKUT TIME LINE PERKEMBANGAN BANGSA MELAYU

Terdapat 9 tahap yakni

Tahap 1

Entitas Melayu kono muncul dari kerajaan Sriwijaya-Jambi/Melayu yang berpusat di Palembang dan Jambi abad ke- 7

Tahap 2

Terjadi proses islamisasi pada abad 14 di Sriwijaya-Jambi/Melayu, para dai islam meciftakan bahasa jawi, yakni percampuran Austroasia + Austronesia + sanskrit + Arab-Parsi.

Tahap 3

Muncul Kerajaan Malaka keturunan Melayu ( Sriwijaya-Jambi ) pada abad 15. 

Tahap 4

Kesultanan Melayu Malaka mulai menaklukan beberapa wilayah menyebarkan alam Melayu.

Tahap 5

Alam Melayu semakin berkembang menurut pengembangan Laut Melayu.

Tahap 6

Setelah Malaka jatuh pada Portugis tahun 1511 M, maka muncullah kerajaan warisan Melayu Malaka yakni Kesultanan Johor, Kesultanan Trengganu, Kesultanan Pahang, dan Kesultanan Perak. 

Tahap 7

Muncul kerajaan yang memiliki kedekatan dengan Melayu Malaka seperti Kesultanan Mindanau, Kesultanan Sulu, Kesultanan Brunei, dan Kesultanan Pattani. 

Tahap 8

Pada abad 17 munculnya cendikiawan-cendikiawan Melayu yang menguatkan identitas Melayu.

Tahap 9

Abad 18, Melayu mulai dikenalkan buku Barat, majalah, dan pendidikan. Sehingga identitas melayu mulai makin populer di era ini. 

Sumber:

Hasan, Yunani (Tanpa Tahun) Menelusuri Asal Usul Bangsa Melayu. Palembang : FKIP Universitas Sriwijaya

Muljana, Slamet (1981) Kuntala, Sriwijaya dan Swarnabhumi. Jakarta: Yayasan Idayu.

Omar, Mohamed Anwar (2011) Asal Usul Orang Melayu: Menulis Semula Sejarahnya. Jurnal Melayu (7) 1-82

Jumat, 27 April 2018

SEJARAH KAMPUNG VIETNAM - Pulau Galang Batam

Mohon yang membaca tulisan ini, jika memiliki photo dokumentasi pribadi di area Kampung Vietnam, silahkan di share di kolom Komentar. untuk menambah nilai historisnya.


Peristiwa ini terjadi pertengahan tahun 1970-an setelah berakhirnya perang Vietnam yang ternyata menghadapkan dunia internasional pada masalah serius para pengungsi. Pemicu utamanya adalah jatuhnya Vietnam selatan ketangan kekuasaan Vietnam utara atau vietkong, selain situasi kaostis di Kamboja

Pulau Galang mencuat namanya sekitar, tidak saja di Indonesia tetapi juga di dunia internasional, karena sekira 3,5 tanahnya yang masih menghutan, oleh UNHCR (United Nation High Commission for Refugees), atas persetujuan pemerintah pusat, dibangun pusat pemukiman sementara pengungsi Vietnam yang meninggalkan negerinya karena dilanda perangan. Para pengungsi Vietnam itu dikenal pada waktu itu sebagai “manusia perahu”. Menurut keterangan para petugas yang masih berada di tempat permukiman itu, orang-orang Vietnam yang keluar dari kampung halamannya itu mengarungi sekitar Laut Cina Selatan dan masuk perairan Indonesia dengan menggunakan perahu tua berbagai ukuran yang bocor. Pada setiap perahu itu ada yang berpenumpang sekira 40-100 orang, terdampar atau mendamparkan diri di sekitar pantai Tanjung Uban, Kepulauan Natuna, Pulau Galang dan di sekitar pulau-pulau kecil lainnya yang tidak berpenghuni. Pada waktu itu mereka ditemukan dan ditolong oleh patroli Angkatan Laut Indonesia dan para nelayan setempat.

Peristiwa tersebut yang kemudian menimbulkan kekhawatiran banyak orang di wilayah selatan Vietnam dan mendorong mereka meninggalkan kampung halamannya untuk mencari perlindungan baru. Dengan demikian, banyak alasan para pengungsi itu meninggalkan tanah air mereka, laki-laki, perempuan, tua-muda, dan anak-anak menyelamatkan diri. Mereka dengan menggunakan perahu tua yang bocor itu, berlayar ke laut terbuka tanpa tujuan yang jelas, dan sampailah di perairan Indonesia. Di kemudian hari mereka menjadi masalah banyak negara dan melibatkan perhatian dunia internasional.

Indonesia pada saat itu adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memberikan respons yang muncul terhadap masalah internasional yang urgen itu. Dan menolong para pengungsi itu untuk masuk, dan setuju Pulau Galang yang terletak sekira 50 km sebelah selatan Pulau Batam dan hanya sekira setengah jam dari Singapura dengan menggunakan feri, dipilih sebagai tempat transit para pengungsi Vietnam. Sambil menunggu mereka secara administratif diproses untuk dikirim ke negara ketiga.
Di areal peruntukan pemukiman di Pulau Galang itu, UNHCR membangun perkampungan yang dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana lengkap dan sangat memadai, seperti jalan yang teratur dan kualitas sangat baik yang menghubungkan dengan pelabuhan kecil yang digunakan sebagai lalu lintas suplai kebutuhan hidup para pengungsi itu. Tempat ini dikenal dengan nama Pelabuhan Karyapura. Di situ terdapat restoran makanan laut yang diusahakan oleh para pengungsi, gedung pertemuan, sekolah, gereja, pintu masuk melalui darat dan bangunan untuk fasilitas latihan para petugas daerah. Di pemukiman tersebut, dibangun pula perumahan untuk pegawai lokal UNHCR, pagoda, rest area, camping ground, “Galang Memorial Hall”. Ada sekira 500 orang meninggal di kampung Vietnam itu, karena memang sudah tua dan sakit. Mereka dikuburkan dalam suatu areal pemakaman yang teratur dan terawat baik.

Perumahan pengungsi dan sarana gedung lainnya yang sekarang sebagian besar tampak tidak terawat, kecuali bangunan suci umat Budha (pagoda) dimanfaatkan dan dirawat orang-orang Budha Cina Riau. Bangunan yang ada itu sekarang sedang direnovasi dan dimanfaatkan sebagai salah satu unggulan kawasan wisata pemerintah daerah Batam.

Suatu tempat yang sangat ideal untuk dijadikan areal pendidikan di alam terbuka bagi anak-anak dan pemuda, semacam bumi perkemahan Cibubur di Jakarta. Selain itu tempat tersebut menarik dikunjungi, baik turis lokal maupun mancanegara untuk melihat sambil mengagumi nilai-nilai yang terkandung di balik pembangunan perkampungan tersebut. Juga sambil melakukan refleksi diri, pelajaran apa yang dapat dipetik dari peristiwa itu untuk masa depan kehidupan umat manusia.

“Kampung Vietnam” di Pulau Galang yang sejak tahun 1979-1996 pernah dihuni sekira 250.000 orang manusia perahu yang dikumpulkan dari berbagai tempat di sekitar Kepulauan Riau itu. Sebelumnya mereka hidup bersama penduduk setempat dengan imbalan barang-barang yang mereka bawa. Pada umumnya mereka memberikan imbalan berupa emas. Dan kesan penduduk yang pernah berhubungan dengan para pengungsi itu, di antara mereka tampaknya banyak orang yang tergolong berada.
Atas prakarsa pemerintah dan UNHCR, sengaja mereka dikonsentrasikan pada suatu tempat permukiman yang tertutup interaksinya dengan penduduk setempat untuk memudahkan pengawasan, pengaturan dan keamanan mereka. Selain itu, pemerintah khawatir akan berjangkitnya penyakit kelamin yang mengerikan yang kedapatan di antara mereka, yang disebut Vietnam Rose, sebelum orang mengenal virus HIV yang lebih mengerikan lagi.

Sekarang, perkampungan para pengungsi Vietnam itu telah menjadi wilayah terbuka untuk dikunjungi masyarakat karena telah ditinggalkan para pengungsi.

Selama 18 tahun, dengan dukungan mengesankan dari komunitas internasional, UNHCR/badan PBB yang berurusan dengan masalah-masalah pengungsi dan pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Angkatan Laut pada waktu itu, para pengungsi Vietnam yang dilindungi di Pulau Galang telah berhasil dipulangkan. Sekira 5.000 orang pengungsi kembali ke kampung halamannya dan yang lainnya meninggalkan Pulau Galang menuju tanah airnya yang baru, tersebar di negara-negara ketiga, di antaranya ada yang menuju Australia dan Amerika Serikat. Perkampungan Vietnam yang sejuk dan indah serta jauh dari keramaian itu, bagi mereka hanya tinggal kenangan yang tentu sulit untuk mereka lupakan. Di mana UNHCR dan pemerintah Indonesia menyatakan bahwa areal permukiman Vietnam itu menjadi wilayah konservasi sebagai “museum terbuka” untuk umum yang dilindungi keberadaannya sebagai bukti kepada dunia bahwa Indonesia memiliki komitmen tinggi dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang penting dalam sejarah peradaban modern di Asia Tenggara.
Pada tahun 1996, seluruh pengungsi dipulangkan kembali ke negara-nya, dan sekarang objek wisata bersejarah tersebut dapat kita nikmati dan kita jadikan pembelajaran tentang bagaimana perjuangan masyarakat Vietnam bertahan hidup di tanah rantau.

5 Cerita Seram Pulau Galang di Batam Yang Berhantu.
Tak hanya dikenal dengan sebutan surga gadget harga miring, Batam juga masyhur sebagai salah satu kawasan wisata andalan di Sumatera. Memang tak bisa disangkal kalau tempat ini dan beberapa pulau kecil di sekitarnya menawarkan eksotisme alam yang luar biasa. Namun, di sisi lain, ada satu pulau di sini yang kental dengan hal-hal horor dan menakutkan. Ya, namanya adalah Pulau Galang.
Pulau satu ini sudah sejak dulu banget dikenal sangat angker. Bahkan orang-orang sekitar pun nggak berani mampir selepas magrib karena tahu apa yang bakal mereka jumpai. Pulau Galang sendiri punya riwayat yang mengenaskan. Dulu, tempat ini dijadikan sebagai pulau singgah bagi orang-orang Vietnam yang kabur dari negaranya. Tapi, di sini mereka mengalami nasib buruk. Mulai kematian, penyakit, perkosaan dan hal-hal menyedihkan lainnya.
Kini Galang tak berpenghuni, tapi jejak-jejak mencekam para penghuninya masih sangat terasa. Dan masih soal pulau angker ini, berikut adalah fakta-fakta soal Pulau Galang yang mungkin akan membuatmu merinding.

Sejarah Pulau Galang dan Penduduk Vietnamnya
Galang sebelumnya tak pernah dihuni, hingga akhirnya orang-orang Vietnam memenuhinya di tahun 70an. Alasannya sendiri karena di negara komunis ini tengah terjadi pergolakan besar. Makanya, daripada nyawa melayang tanpa arti, beberapa orang Vietnam memutuskan untuk pergi sejauh-jauhnya hingga akhirnya bersandar di Pulau Galang ini.
Sama seperti para pengungsi lainnya, seperti Rohingya atau Suriah, butuh perjuangan berdarah-darah bagi para pengungsi Vietnam untuk sampai di Pulau Galang ini. Mereka menempati perahu kecil dan berdesak-desakan hingga satu persatu tewas karena keadaan. Berbulan-bulan terombang-ambing di Laut Cina Selatan, mereka akhirnya sampai ke Galang.

Kehidupan di Sana Sangat Miris
Meskipun berhasil selamat dari maut di negeri sendiri, tapi di Pulau Galang para pengungsi Vietnam tersebut tak lantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka terlunta-lunta sampai akhirnya PBB membantu dengan mendirikan bangunan-bangunan.
Entah, mungkin karena depresi atau semacamnya, kehidupan di sini seperti mati. Orang-orangnya pun juga berkelakuan beringas. Sangat menakutkan tinggal di sana dan gara-gara itu juga sampai dibangun penjara khusus bagi orang-orang seperti itu. Tak hanya itu, hampir seluruh penduduk di sini mengalami sebuah wabah bernama Vietnam Rose atau semacam penyakit kelamin khusus.

Kisah Sedih si Cantik Tinh Nham Laoi
Ketika membahas Pulau Galang tentu tak lepas dari sosok bernama Tinh Nham Laoi. Wanita satu ini memang bukan siapa-siapa, namun namanya terpatri di sebuah monumen di Galang. Wanita ini bisa dikatakan sebagai bukti nyata dari kehidupan miris di pulau tersebut. Tinh Nham Laoi menurut cerita mati karena bunuh diri.
Penyebabnya sendiri adalah pemerkosaan hebat yang dialaminya. Sehingga untuk menutupi rasa malu wanita yang katanya cantik ini melakukan bunuh diri. Bagi yang bisa melihat hal-hal gaib, katanya Tinh Nham Laoi suka Wara-wiri di sekitar Pulau Galang. Dan Tinh Nham Laoi menurut mereka yang bisa lihat, tak suka dengan pengunjung yang macam-macam dan bertingkah aneh.

Kuburan dan Arwah-Arwah Gentayangan
Di Pulau Galang masih terdapat sisa-sisa bangunan yang diperuntukkan bagi para pengungsi Vietnam. Mulai dari sekolah, rumah, tempat ibadah, sampai penjara. Kondisinya masih bagus, tapi jangan tanya kalau soal kesan. Jujur saja, kamu mungkin takkan kuat memandangnya lama-lama.
Tak hanya bangunan-bangunan, di pulau ini juga terdapat semacam kompleks perkuburan. Jumlahnya sendiri cukup banyak hingga 500an makam. Katanya, tempat ini jadi salah satu spot paling menakutkan di Pulau Galang. Jangan kata malam hari, siang saja nuansanya sudah sangat mencekam. Di sini juga katanya sering terlihat arwah-arwah gentayangan yang tak terima dengan kematian mereka.

Jadi Wisata Misteri
Begitu menakutkannya Galang, akhirnya sepeninggal orang-orang Vietnam itu, pulau ini pun tak dihuni. Masyarakat sekitar katanya ogah karena nuansanya yang mencekam. Meskipun tidak dihuni, bukan berarti pulau ini tidak bisa dikunjungi. Setiap orang boleh mampir karena Pulau Galang sekarang dijadikan semacam tempat wisata.
Di sini kita bisa menikmati sisa-sisa kehidupan para pengungsi Vietnam tersebut. Mulai dari bangunan-bangunannya, sampai monumen Tinh Nham Laoi tadi. Oh iya, ada juga monumen berwujud kapal yang menggambarkan susahnya orang-orang Vietnam menuju Galang. Di satu sisi, Pulau Galang akan jadi wisata sejarah yang menarik. Namun, di sisi lain pulau ini menawarkan nuansa seram dan mencekam yang tak biasa.
Ternyata Para Pengungsi Vietnam ini memeluk berbagai macam agama, ada sebagian dari mereka yang memeluk agama Budha, ada sebagian yang Kristen, Katolik, bahkan ada juga yang Muslim. Tak heran jika di Kampung Vietnam Batam terdapat banyak sekali bekas tempat Ibadah yang bermacam macam. Hingga saat ini, bekas tempat ibadah tersebut masih ada. Setiap wisatawan yang berkunjung ke Kampung Vietnam Batam akan menjumpai Vihara, Gereja, dan Musholla.

Galang yang sekarang terbuka sebagai salah satu wisata andalan Batam. Di sini kita bisa menyaksikan sisa-sisa peradaban orang-orang Vietnam tersebut. Oh iya, kalau ke sini sarannya selalu berdoa dulu dan jangan macam-macam seperti selfie dan sebagainya. Takutnya, penghuni pulau ini marah dan berbuat usil seperti yang pernah dialami oleh beberapa pengunjung.

7 Fakta Miris Pengungsi Vietnam "Manusia Perahu" di Pulau Galang
Para pengungsi Vietnam saat tiba di Pulau Galang Batam tahun 1979. 
Pulau Galang, Batam, pernah ditempati sebanyak 250 orang pengungsi Vietnam. Mereka mendiami sebuah tempat bernama Camp Vietnam. Keberadaan mereka mendapat perhatian dari lembaga PBB, UNHCR yang menangani soal kemanusiaan. Banyak cerita mengenai tragedi yang terjadi kala itu. Ratusan ribu pengungsi itu tiba ke Pulau Batam dengan perahu-perahu kayu yang berisikan ratusan orang. Banyak diantara mereka yang tak sampai ke daratan. Di tahun 1997 para pengungsi tersebut mencari negara ketiga. Mereka dites untuk menjadi warga negara lain, sedangkan yang tak lolos tes dikembalikan ke negaranya. Beberapa diantara kini banyak yang sukses berada di negara ketiga tersebut.

Berikut fakta-fakta pengungsi Vietnam di Pulau Galang pada tahun 1979-1996

Bakar Perahu
Saat perang saudara di Vietnam berkecamuk, ratusan ribu orang meninggalkan Vietnam. Ratusan ribu orang itu diantaranya terdampar di Pulau Batam. Begitu tiba di Batam mereka sengaja membakar perahu agar tak diusir kembali ke laut atau dipulangkan ke negaranya. Sejumlah pengungsi turun dari perahu yang mereka tumpangi berbulan-bulan.

Mati di Laut
Entah berapa banyak para pengungsi Vietnam itu meninggal di tengah laut karena kelaparan, tenggelam dan sebab lainnya. Ratusan pengungsi ketika itu berdesak-desakan dalam satu perahu. Ada beberapa perahu yang mereka gunakan. Saat ini replika perahunya masih bisa dilihat di Pulau Galang.

PBB
Kehadiran pengungsi Vietnam itu mendapat perhatian dunia. PBB melalui UNHCR yang menangani perihal kemanusiaan membangun berbagai fasilitas di sana. Diantaranya tempat ibadah, rumah sakit, sekolah, penjara, serta permakaman.

Dilarang Berinteraksi
Sekitar 250 ribu pengungsi Vietnam menempati 80 hektare lahan di Pulau Galang. Mereka dikawal ketat dan tidak diperbolehkan keluar dari lokasi tersebut. Penduduk setempat juga tak bisa masuk ke lokasi. Namun ada beberapa diantaranya yang berbaur kendati hanya beberapa. Bahkan ada seorang warga Pulau Galang yang bisa berbahasa Vietnam dan sempat kembali bertemu dengan eks pengungsi Vietnam yang telah banyak sukses di negara ketiga seperti Amerika, Australia dan lainnya.

Vietnam Rose
Para pengungsi Vietnam kala itu diserang penyakit cukup mengerikan yang disebut Vietnam Rose. Penyakit ini menyerang alat kelamin para pengungsi. Penyakit tersebut sangat mengganggu dan sulit diobati.

Pemerkosaan
Seorang pengungsi wanita menjadi korban perkosaan. Ia diperkosa 7 pria yang juga pengungsi. Dampak dari perkosaan itu, wanita yang bernama Tinhn Han Loai itu akhirnya bunuh diri akibat depresi berat.

Terpisah dari Keluarga
Kepedihan yang lain dirasakan oleh para pengungsi yaitu mereka harus terpisah dari keluarga ketika pengungsian, anak-anak yang terpaksa diadopsi oleh keluarga lain di tambah lagi mereka harus di isolasi dari penduduk di sekitar pengungsian. 
Perang saudara itu tetap meninggalkan memori kesedihan yang berbekas bagi para warga pengungsian. Selama 18 tahun mereka mengungsi meninggalkan 503 makam di tempat tersebut.


Semoga bermanfaat

Selasa, 15 November 2016

HIKAYAT TELAGA PUNGGUR

BATAM SELAYANG PANDANG


HIKAYAT TELAGA PUNGGUR
"Sumber mata Air di Bawah Pohon Punggur"

Pada masa dahulunya terdapat sebuah pohon besar yang sudah mati dan tidak lagi dikenal dari jenis pohon apa. Masyarakat di sekitar pohon itu tumbuh menyebutnya sebagai sebagai Pohon Punggur.
Pohon yang pernah hidup hingga ratusan tahun dan tinggi menjulang ini tetap tegak berdiri meski sudah mati. Berhampiran di pangkal pohon itu terdapat sebuah sumber mata air bening yang masih dapat ditemukan sehingga pada pertengahan abad ke-18. Oleh To Kecut, seorang tetua yang membuka kampong tersebut, sumber mata air tadi dijadikan sumur yang dikenali dengan nama telaga. Karena berhampiran dengan kayu yang sudah mati yang disebut Punggur itu maka penduduk sekitarnya menamai kawasan itu dengan sebutan Telaga Punggur.

Setelah beberapa lama, pendatang dari suku Cina ikut menempati daerah ini menemukan sebuah pohon asam besar yang berhampiran dengan Pos Polisi sekarang dan sehingga ada pula yang menamakan kampung Telaga Punggur dengan nama Asam Kang (asam besar).
Telaga Punggur di masa kini juga disebut kawasan pelabuhan Domestik Batam menuju Tanjungpinang dan beberapa kawasan lainnya. Dahulunya kawasan ini adalah perkampungan Teluk Nipah yang mana asal nama tersebut adalah sejenis pohon rumbia yang banyak tumbuh di kawasan itu. Setelah tempat ini berubah wajah, maka terjadilah sebutan menjadi dua Punggur yakni Pelabuhan Punggur dan Punggur Dalam. Pada masa To Kecut membuka areal lahan kampung tersebut bersama dengan istri dan anak – anaknya, dia banyak memberikan pelajaran agama Islam kepada penduduk yang belum paham tentang keagamaan.
Kepulauan Riau, mengakhiri masa jayanya pada tahun 1911 setelah Belanda meminta Raja Abdul Rahman menjadi rakyat biasa. Pada pertengahan awal abad ke-19 atau tahun 1923, pihak Belanda mengangkat Pak Rahmad sebagai Amir (sekarang camat) yang merupakan Amir yang ditempatkan di Telaga Punggur dan pusat pemerintahannya di Tanjungpinang. Setelah Rahmad diangkat menjadi Amir, pemerintah Belanda pada waktu itu memanggil Rahmad dan menganjurkan agar orang – orang laut atau Suku Laut di sekitar Punggur dikumpulkan dan diberi tempat tinggal, dengan tujuan agar mereka dapat terorganisir dengan baik dan mengurangi pelayaran secara bebas.

Mengingat keadaan pada waktu itu sangat tidak memungkinkan dan sangat berbahaya bagi keselamatan mereka. Meskipun pihak Belanda ini adalah penjajah namun mereka masih bisa menghargai keberadaan Suku Laut. Salah satu tempat tinggal mereka yaitu Pulau Kubung, dan sampai sekarang keturunan dari mereka masih dapat ditemui, bahkan dari keturunannya ada yang telah mendapat gelar dalam hal pendidikan, serta bekerja di berbagai perusahaan di Pulau Batam. Hikayat Kampong Tua Telaga Punggur ini ni diceritakan oleh Muhammad Dali.


Sumber: Muhammad Natsir Tahar. ( Dogol ).

HIKAYAT KAMPUNG PANAU

BATAM SELAYANG PANDANG

KAMPUNG PANAU
Mak Jidah Yang Berpanau

Menurut cerita dulu ada pasangan suami istri yang bernama Wak keling dan Mak Jidah mengidap penyakit kulit yang disebut Panau dan merata ditubuhnya. Sedangkan suaminya berkulit hitam legam sehingga disebut Keling.
Sepasang suami isteri yg tak memiliki keturunan ini diyakini sebagai manusia yg pertama sekali menghuni Kampung Panau.
Lambat laun daerah ini makin banyak dihuni penduduk. Warga pada masa itu meyakini sebuah mitos bahwa Mak Jidah dan Wak Keling telah ghaib dan menjelma menjadi dua buah batu.
Penduduk kampun
g itu memberi nama batu tersebut “Malang Jidah” sekaligus menamakan kampung mereka sebagai Kampung Panau. Pada tahun 1949 hingga tahun 1953, Kampung Panau semakin banyak penduduknya. Selain dari suku Melayu juga mulai berdatangan orang-orang dari Timur Indonesia yakni Bugis, Buton dan Flores. Sumber: Muhammad Natsir Tahar. ( Dogol ).

HIKAYAT SEKUPANG

BATAM SELAYANG PANDANG


SEKUPANG
"Harimau Jadian dan Sungai Pembunuh"

Kebetulan saya tinggal di Sekupang, Tepatnya di Tiban Lama RT 02 / RW 08.
Menurut Cerita kampung tua Sekupang dibukan pada Tahun 1839.Daerah ini menurut hikayat ditempati pertama sekali oleh seorang petualang dari pulau Sumatera yang amat terkenal karena memiliki ilmu Harimau Jadian. Harimau Jadian sendiri adalah semacam ilmu yang dapat mengubah pemiliknya menjadi seekor harimau yang ganas dan menguasai seni beladiri menyerupai gerakan seekor harimau. Ilmu ini sangat ditakuti dan biasanya diwariskan turun temurun.

Pada tahun 1920 – an dikabarkan pemilik ilmu Harimau Jadian ini telah lenyap tak berbekas. Setelah seorang bernama Muhammad Taha menempati bekas pemukiman mereka, ia menemukan sebuah pusara tua yang diyakini adalah makam orang Sumatera tersebut yang juga dikenal dengan nama Keramat Sekupang.
Dulunya Sekupang disebut sebagai Sungai Pembunuh karena kawasan ini pada zaman kerajaan Riau Lingga pernah dijadikan sebagai tempat untuk menghukum lanun yakni perompak atau bajak laut yang berhasil dikalahkan oleh tentara kerajaan. Lanun – lanun yang ditangkap di perairan Kepulauan Riau atau Semenanjung kemudian dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi oleh algojo kerajaan di Sungai Pembunuh, yang selanjutnya berganti nama menjadi Sungai Harapan.


Di kawasan ini dulunya terdapat sebuah sungai yang dinamai Sungai Buluh. Sungai ini telah berubah menjadi bendungan tepatnya berhampiran dengan Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB). Pada masa kehidupan Muhammad Taha, ia menempati wilayah pinggiran pantai yang dinamai Pasir Mongeh yang berhampiran dengan Tanjung Kemudian. Wilayah titik-titik dusun ini kemudian menjadi satu wilayah yang disebut Sungai Pembunuh kemudian Sungai Harapan dan terakhir Sekupang.


Nama Sekupang sempena dari nama sejenis kerang Kupang yang banyak terdapat di perairan negeri Johor (Selat Tebrau). Hingga saat ini jenis kerang ini masih banyak dibudidayakan oleh nelayan di negeri tersebut.
Sedangkan Sungai Pembunuh yang kemudian bernama Sungai Harapan karena waktu dulu penduduk sekitar menjadikannya sebagai harapan sebagai sumber air bersih yang kemudian dijual ke Pulau Sambu. Di sinilah kemudian nama Sungai Pembunuh bertukar nama menjadi Sungai Harapan atau Sekupang. Hikayat Kampong Tua Sekupang diceritakan oleh Abdul Saman.
Sumber: Muhammad Natsir Tahar. (Tok Dogol).

HIKAYAT KAMPUNG BELIAN

BATAM SELAYANG PANDANG

KAMPUNG BELIAN
Makam Panjang dan Legenda "Singapura Dilanggar Todak"

Belian adalah nama perkampungan yang terletak di kawasan tepi pantai Batam Centre.Yang mungkin anda tau gedung telkomsel batam Centre, nah dari lampu merah belok kiri lurus arah ke pantai.Di kampung ini terdapat makam yang diperkirakan berusia 200 tahun. Selain berumur tua, makam ini juga mempunyai panjang tiga meter dengan batu nisan dari bahan yang langka ditemukan saat ini. Apabila dilihat dari struktur batu nisan tersebut diyakini memiliki kemiripan dengan struktur makam Sultan Malik Al-shaleh di Samudra Pasai.

Batu nisan tersebut ditemukan ketika Habibullah atau biasa dipanggil Wak Geno yang berasal dari Semenanjung Melaka membuka kampung ini. Keberadaan makam tersebut telah wujud pada abad 18 pada waktu Islam baru mulai berkembang secara luas di pulau Batam dan Singapura. Terkait makam yang batu nisannya berasal dari Kerajaan Samudera Pasai ini terdapat sebuah hikayat tentang seorang ulama besar dari negeri Aceh itu. Pada waktu itu telah datang ke Singapura seorang ulama besar yang bernama Jana Khatib beserta dua pengikutnya bernama Agam dan Naka dari Kerajaan Pasai untuk menyebarkan agama Islam dengan cara berdagang.

Namun upaya untuk menyebarkan ajaran tauhid ini tidak mendapat tanggapan dan sambutan yang baik oleh sekelompok orang, diakibatkan seorang tumenggung yang iri hati terhadapnya.
Dari sejarah inilah bermula kisah Hang Nadim, seorang budak Melayu yang wafat dalam usia muda demi menumpas kebodohan bangsanya pada zaman itu. Peristiwa ini bermula dari sumpah Jana Khatib ketika dia difitnah oleh temenggung lalu dihukum mati oleh sultan. Dari kejadian ini beliau telah melafazkan sumpah bahwa Singapura akan mengalami bencana, kemudian dari ucapannya ternyata makbul sehingga negeri Singapura benar-benar tertimpa musibah besar hingga banyak rakyatnya yang mengalami kematian akibat diserang ikan todak. Dari kejadian ini , maka sampai sekarang ini terkenallah lagenda “Singapura Dilanggar Todak”.

Ketika Jana Khatib akan menghembuskan nafasnya yang terakhir, beliau minta agar muridnya untuk membawa jenazahnya pulang ke negeri Pasai. Namun keadaan serba tidak memungkinkan untuk meneruskan pelayaran ke negeri Pasai dan karena Agam telah tinggal sendiri sedangkan Naka juga ikut menjadi korban sewaktu tragedi berdarah itu terjadi. Setelah membawa jenazah Jana Khatib ke dalam perahu dan akan meninggalkan pantai Tanjung Pagar, Singapura pada malam hari, Agam terperanjat melihat keadaan perahunya yang digenangi air.

Agam kemudian membatalkan niatnya untuk terus melakukan perjalanan pulang ke Pasai. Dia menukar haluan untuk mencari sebuah pangkalan yang dapat memperbaiki perahunya. Maka haluanpun dialihkan ke pulau Batam dan tempat pendaratan beliau tepatnya di pantai Kampung Belian. Memandang kondisi jenazah yang tidak memungkinkan untuk dibawa pulang ke Pasai, Agam memutuskan untuk memakamkan gurunya di pantai tersebut meskipun pada awalnya tidak diberi nisan dan hanya diberi batu sebagai tanda pada makam tersebut.

Namun setelah beliau selamat sampai ke Pasai, Agam mengatur segala strategi serta keperluan lainnya untuk kembali menyerang Singapura pada zaman setelah Singapura dilanggar todak. Tujuan beliau adalah untuk menyelamatkan kekanda dan ibunda Hang Nadim yang masih selamat.
Sebelum ke Singapura Agam sempat mampir ke pantai Belian tempat makam Jana Khatib dan mengganti batu nisan yang khusus dibawanya dari negeri Pasai dan diabadikan hingga saat ini. Inilah salah satu bukti peninggalan sejarah yang sangat berharga yang terdapat di pulau Batam untuk dilestarikan bersama.
Sumber: Muhammad Natsir Tahar. ( Dogol ).

DAPUR 12 BATU AJI

BATAM SELAYANG PANDANG
HIKAYAT DAPUR 12

BERHGANTUNG HIDUP DI DAPUR ARANG

Masyarakat batam pada zaman dulu adalah masyarakat tradisional pesisir. Mata pencaharian pada umumnya adalah menangkap i
kan.Kondisi wilayah kepulauan di antara jejeran pulau – pulau kecil ini mencirikan kegiatan ekonomi maritim tradisional. Berbeda dengan pedalaman Jawa, Sumatera dan Kalimantan, yang berciri agraris atau kontinental.
Selain menangkap ikan, penduduk Batam yang disebut masyarakat Melayu (untuk membedakan dengan orang Tionghoa, masyarakat Melayu terdiri dari beragam etnis seperti etnis Melayu, Bugis, Jawa, Minang dan seterusnya) bekerja dengan berdagang, mencari kayu, membuat tembikar dan sebagainya. Sementara orang Tionghoa yang waktu itu dikenal dengan sebutan “Cina Kebun”, sebagian besar adalah imigran dari dataran Tiongkok, yang kemudian menetap di pedalaman hutan untuk membuka perkebunan karet, gambir sampai merica.
Banyaknya hutan bakau (mangrove) yang tumbuh subur di sepanjang pesisir Batam menjadi berkah bagi penduduk Batam waktu itu. Selain bekerja sebagai nelayan, sebagian penduduk menebangi hutan bakau dan mengolah kayunya menjadi arang. Kayu arang olahan penduduk Batam bernilai ekonomis tinggi dan sangat laku di Singapura. Sehingga kayu arang menjadi salah satu komoditas yang laris diperjualbelikan di Singapura. Arang menjadi bahan bakar yang banyak digunakan untuk memasak bagi warga Singapura.
Kebutuhan arang di Singapura umumnya dipasok dari Batam dan Kepulauan Riau. Arang tersebut dibawa oleh toke arang dengan menggunakan kapal kayu. Dalam beberapa hari sekali, toke bolak-balik Batam- Singapura. Pergi ke Singapura membawa arang dari kayu bakau, pulangnya toke tersebut membawa berbagai sembako yang dibutuhkan warga Batam. Transaksi masih dilakukan dengan cara tukar barang langsung (barter).
Penjualan kayu arang ini sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Pengiriman arang besar-besaran ke Singapura dilakukan pada era tahun 1960-an. Saat itu, penduduk Singapura sudah mulai ramai sehingga kebutuhan arang sangat besar. Arang diproduksi di beberapa lokasi pesisir di Batam. Dapur arang ini biasanya milik tauke. Kadang satu tauke arang memiliki beberapa dapur arang yang mempekerjakan beberapa orang. Ada juga tauke arang yang mengumpulkan arang-arang dari penduduk. Setelah cukup barulah dibawa ke Singapura.
Di antara lokasi dapur arang yang terkenal dan masih ditemukan sisa-sisa peninggalan sampai saat ini adalah di Dapur 12, Sagulung. Di daerah ini ada empat tungku atau dapur arang berukuran besar. Tingginya mencapai lima meter lebih dengan luas lebih dari 25 meter persegi. Dua dapur dibangun oleh ayah Samyong, tauke arang. Ayang Samyong sendiri merupakan warga Singapura yang hijrah ke Batam saat Samyong masih kecil. Di Batam ia mendirikan usaha dapur arang. Sementara dua dapur lagi sudah ada jauh sebelumnya.
Sedangkan menurut cerita warga yang berkembang saat ini, dulunya di Dapur 12, sesuai dengan namanya, ada sebanyak 12 dapur arang yang berukuran besar. Satu persatu dapur arang tersebut rusak dimakan usia dan hilang. Kini yang tersisa tinggal sisa-sisa bangunan dapur arang yang juga sudah rusak dimakan usia.
Warga Batam yang pernah menjadi tauke arang adalah (alm) Tony A Samyong (Sam Hiong), seorang penjuang pada zaman konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. Dapur arang di Dapur 12 tersebut adalah milik ayah Samyong. Dapur tersebut sudah dibagun ayah Samyong sejak Samyong masih kecil. Samyong sendiri pada tahun 1947, saat itu berusia sekitar 12 tahun, sudah terjun membuat arang membantu bapaknya.
Selain di Dapur 12, keluarga Samyong juga memiliki dapur arang di Seijodoh. Waktu itu, dapur arang di Seijodoh merupakan satu-satunya. Sementara warga Batam lain waktu itu banyak bekerja sebagai nelayan yang menangkap ikan dengan kelong. Ada juga yang bekerja sebagai petani kebun.
Dapur arang ini ditemui di hampir semua pesisir Batam dan di muara sungai, seperti di Seijodoh, Duriangkang, Dapur 12, Sungai Buluh dan tempat lainnya. Tersebarnya hutan bakau di seluruh pesisir menjadikan bahan baku arang yaitu bakau tidak sulit didapatkan pekerja. Hal ini menjadikan mencari kayu bakau dan mengolahnya menjadi bakau adalah pekerjaan andalan bagi penduduk Batam, ketimbang berkebun.
Tujuan pendirian dapur arang di muara sungai ini untuk memudahkan mengangkut dan mengirimkan arang dengan perahu ke Singapura. ( Sumber Muhammad Natsir Tahar ). ( Edward Hasbullah ).