Selasa, 15 November 2016

HIKAYAT TELAGA PUNGGUR

BATAM SELAYANG PANDANG


HIKAYAT TELAGA PUNGGUR
"Sumber mata Air di Bawah Pohon Punggur"

Pada masa dahulunya terdapat sebuah pohon besar yang sudah mati dan tidak lagi dikenal dari jenis pohon apa. Masyarakat di sekitar pohon itu tumbuh menyebutnya sebagai sebagai Pohon Punggur.
Pohon yang pernah hidup hingga ratusan tahun dan tinggi menjulang ini tetap tegak berdiri meski sudah mati. Berhampiran di pangkal pohon itu terdapat sebuah sumber mata air bening yang masih dapat ditemukan sehingga pada pertengahan abad ke-18. Oleh To Kecut, seorang tetua yang membuka kampong tersebut, sumber mata air tadi dijadikan sumur yang dikenali dengan nama telaga. Karena berhampiran dengan kayu yang sudah mati yang disebut Punggur itu maka penduduk sekitarnya menamai kawasan itu dengan sebutan Telaga Punggur.

Setelah beberapa lama, pendatang dari suku Cina ikut menempati daerah ini menemukan sebuah pohon asam besar yang berhampiran dengan Pos Polisi sekarang dan sehingga ada pula yang menamakan kampung Telaga Punggur dengan nama Asam Kang (asam besar).
Telaga Punggur di masa kini juga disebut kawasan pelabuhan Domestik Batam menuju Tanjungpinang dan beberapa kawasan lainnya. Dahulunya kawasan ini adalah perkampungan Teluk Nipah yang mana asal nama tersebut adalah sejenis pohon rumbia yang banyak tumbuh di kawasan itu. Setelah tempat ini berubah wajah, maka terjadilah sebutan menjadi dua Punggur yakni Pelabuhan Punggur dan Punggur Dalam. Pada masa To Kecut membuka areal lahan kampung tersebut bersama dengan istri dan anak – anaknya, dia banyak memberikan pelajaran agama Islam kepada penduduk yang belum paham tentang keagamaan.
Kepulauan Riau, mengakhiri masa jayanya pada tahun 1911 setelah Belanda meminta Raja Abdul Rahman menjadi rakyat biasa. Pada pertengahan awal abad ke-19 atau tahun 1923, pihak Belanda mengangkat Pak Rahmad sebagai Amir (sekarang camat) yang merupakan Amir yang ditempatkan di Telaga Punggur dan pusat pemerintahannya di Tanjungpinang. Setelah Rahmad diangkat menjadi Amir, pemerintah Belanda pada waktu itu memanggil Rahmad dan menganjurkan agar orang – orang laut atau Suku Laut di sekitar Punggur dikumpulkan dan diberi tempat tinggal, dengan tujuan agar mereka dapat terorganisir dengan baik dan mengurangi pelayaran secara bebas.

Mengingat keadaan pada waktu itu sangat tidak memungkinkan dan sangat berbahaya bagi keselamatan mereka. Meskipun pihak Belanda ini adalah penjajah namun mereka masih bisa menghargai keberadaan Suku Laut. Salah satu tempat tinggal mereka yaitu Pulau Kubung, dan sampai sekarang keturunan dari mereka masih dapat ditemui, bahkan dari keturunannya ada yang telah mendapat gelar dalam hal pendidikan, serta bekerja di berbagai perusahaan di Pulau Batam. Hikayat Kampong Tua Telaga Punggur ini ni diceritakan oleh Muhammad Dali.


Sumber: Muhammad Natsir Tahar. ( Dogol ).

HIKAYAT KAMPUNG PANAU

BATAM SELAYANG PANDANG

KAMPUNG PANAU
Mak Jidah Yang Berpanau

Menurut cerita dulu ada pasangan suami istri yang bernama Wak keling dan Mak Jidah mengidap penyakit kulit yang disebut Panau dan merata ditubuhnya. Sedangkan suaminya berkulit hitam legam sehingga disebut Keling.
Sepasang suami isteri yg tak memiliki keturunan ini diyakini sebagai manusia yg pertama sekali menghuni Kampung Panau.
Lambat laun daerah ini makin banyak dihuni penduduk. Warga pada masa itu meyakini sebuah mitos bahwa Mak Jidah dan Wak Keling telah ghaib dan menjelma menjadi dua buah batu.
Penduduk kampun
g itu memberi nama batu tersebut “Malang Jidah” sekaligus menamakan kampung mereka sebagai Kampung Panau. Pada tahun 1949 hingga tahun 1953, Kampung Panau semakin banyak penduduknya. Selain dari suku Melayu juga mulai berdatangan orang-orang dari Timur Indonesia yakni Bugis, Buton dan Flores. Sumber: Muhammad Natsir Tahar. ( Dogol ).

HIKAYAT SEKUPANG

BATAM SELAYANG PANDANG


SEKUPANG
"Harimau Jadian dan Sungai Pembunuh"

Kebetulan saya tinggal di Sekupang, Tepatnya di Tiban Lama RT 02 / RW 08.
Menurut Cerita kampung tua Sekupang dibukan pada Tahun 1839.Daerah ini menurut hikayat ditempati pertama sekali oleh seorang petualang dari pulau Sumatera yang amat terkenal karena memiliki ilmu Harimau Jadian. Harimau Jadian sendiri adalah semacam ilmu yang dapat mengubah pemiliknya menjadi seekor harimau yang ganas dan menguasai seni beladiri menyerupai gerakan seekor harimau. Ilmu ini sangat ditakuti dan biasanya diwariskan turun temurun.

Pada tahun 1920 – an dikabarkan pemilik ilmu Harimau Jadian ini telah lenyap tak berbekas. Setelah seorang bernama Muhammad Taha menempati bekas pemukiman mereka, ia menemukan sebuah pusara tua yang diyakini adalah makam orang Sumatera tersebut yang juga dikenal dengan nama Keramat Sekupang.
Dulunya Sekupang disebut sebagai Sungai Pembunuh karena kawasan ini pada zaman kerajaan Riau Lingga pernah dijadikan sebagai tempat untuk menghukum lanun yakni perompak atau bajak laut yang berhasil dikalahkan oleh tentara kerajaan. Lanun – lanun yang ditangkap di perairan Kepulauan Riau atau Semenanjung kemudian dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi oleh algojo kerajaan di Sungai Pembunuh, yang selanjutnya berganti nama menjadi Sungai Harapan.


Di kawasan ini dulunya terdapat sebuah sungai yang dinamai Sungai Buluh. Sungai ini telah berubah menjadi bendungan tepatnya berhampiran dengan Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB). Pada masa kehidupan Muhammad Taha, ia menempati wilayah pinggiran pantai yang dinamai Pasir Mongeh yang berhampiran dengan Tanjung Kemudian. Wilayah titik-titik dusun ini kemudian menjadi satu wilayah yang disebut Sungai Pembunuh kemudian Sungai Harapan dan terakhir Sekupang.


Nama Sekupang sempena dari nama sejenis kerang Kupang yang banyak terdapat di perairan negeri Johor (Selat Tebrau). Hingga saat ini jenis kerang ini masih banyak dibudidayakan oleh nelayan di negeri tersebut.
Sedangkan Sungai Pembunuh yang kemudian bernama Sungai Harapan karena waktu dulu penduduk sekitar menjadikannya sebagai harapan sebagai sumber air bersih yang kemudian dijual ke Pulau Sambu. Di sinilah kemudian nama Sungai Pembunuh bertukar nama menjadi Sungai Harapan atau Sekupang. Hikayat Kampong Tua Sekupang diceritakan oleh Abdul Saman.
Sumber: Muhammad Natsir Tahar. (Tok Dogol).

HIKAYAT KAMPUNG BELIAN

BATAM SELAYANG PANDANG

KAMPUNG BELIAN
Makam Panjang dan Legenda "Singapura Dilanggar Todak"

Belian adalah nama perkampungan yang terletak di kawasan tepi pantai Batam Centre.Yang mungkin anda tau gedung telkomsel batam Centre, nah dari lampu merah belok kiri lurus arah ke pantai.Di kampung ini terdapat makam yang diperkirakan berusia 200 tahun. Selain berumur tua, makam ini juga mempunyai panjang tiga meter dengan batu nisan dari bahan yang langka ditemukan saat ini. Apabila dilihat dari struktur batu nisan tersebut diyakini memiliki kemiripan dengan struktur makam Sultan Malik Al-shaleh di Samudra Pasai.

Batu nisan tersebut ditemukan ketika Habibullah atau biasa dipanggil Wak Geno yang berasal dari Semenanjung Melaka membuka kampung ini. Keberadaan makam tersebut telah wujud pada abad 18 pada waktu Islam baru mulai berkembang secara luas di pulau Batam dan Singapura. Terkait makam yang batu nisannya berasal dari Kerajaan Samudera Pasai ini terdapat sebuah hikayat tentang seorang ulama besar dari negeri Aceh itu. Pada waktu itu telah datang ke Singapura seorang ulama besar yang bernama Jana Khatib beserta dua pengikutnya bernama Agam dan Naka dari Kerajaan Pasai untuk menyebarkan agama Islam dengan cara berdagang.

Namun upaya untuk menyebarkan ajaran tauhid ini tidak mendapat tanggapan dan sambutan yang baik oleh sekelompok orang, diakibatkan seorang tumenggung yang iri hati terhadapnya.
Dari sejarah inilah bermula kisah Hang Nadim, seorang budak Melayu yang wafat dalam usia muda demi menumpas kebodohan bangsanya pada zaman itu. Peristiwa ini bermula dari sumpah Jana Khatib ketika dia difitnah oleh temenggung lalu dihukum mati oleh sultan. Dari kejadian ini beliau telah melafazkan sumpah bahwa Singapura akan mengalami bencana, kemudian dari ucapannya ternyata makbul sehingga negeri Singapura benar-benar tertimpa musibah besar hingga banyak rakyatnya yang mengalami kematian akibat diserang ikan todak. Dari kejadian ini , maka sampai sekarang ini terkenallah lagenda “Singapura Dilanggar Todak”.

Ketika Jana Khatib akan menghembuskan nafasnya yang terakhir, beliau minta agar muridnya untuk membawa jenazahnya pulang ke negeri Pasai. Namun keadaan serba tidak memungkinkan untuk meneruskan pelayaran ke negeri Pasai dan karena Agam telah tinggal sendiri sedangkan Naka juga ikut menjadi korban sewaktu tragedi berdarah itu terjadi. Setelah membawa jenazah Jana Khatib ke dalam perahu dan akan meninggalkan pantai Tanjung Pagar, Singapura pada malam hari, Agam terperanjat melihat keadaan perahunya yang digenangi air.

Agam kemudian membatalkan niatnya untuk terus melakukan perjalanan pulang ke Pasai. Dia menukar haluan untuk mencari sebuah pangkalan yang dapat memperbaiki perahunya. Maka haluanpun dialihkan ke pulau Batam dan tempat pendaratan beliau tepatnya di pantai Kampung Belian. Memandang kondisi jenazah yang tidak memungkinkan untuk dibawa pulang ke Pasai, Agam memutuskan untuk memakamkan gurunya di pantai tersebut meskipun pada awalnya tidak diberi nisan dan hanya diberi batu sebagai tanda pada makam tersebut.

Namun setelah beliau selamat sampai ke Pasai, Agam mengatur segala strategi serta keperluan lainnya untuk kembali menyerang Singapura pada zaman setelah Singapura dilanggar todak. Tujuan beliau adalah untuk menyelamatkan kekanda dan ibunda Hang Nadim yang masih selamat.
Sebelum ke Singapura Agam sempat mampir ke pantai Belian tempat makam Jana Khatib dan mengganti batu nisan yang khusus dibawanya dari negeri Pasai dan diabadikan hingga saat ini. Inilah salah satu bukti peninggalan sejarah yang sangat berharga yang terdapat di pulau Batam untuk dilestarikan bersama.
Sumber: Muhammad Natsir Tahar. ( Dogol ).

DAPUR 12 BATU AJI

BATAM SELAYANG PANDANG
HIKAYAT DAPUR 12

BERHGANTUNG HIDUP DI DAPUR ARANG

Masyarakat batam pada zaman dulu adalah masyarakat tradisional pesisir. Mata pencaharian pada umumnya adalah menangkap i
kan.Kondisi wilayah kepulauan di antara jejeran pulau – pulau kecil ini mencirikan kegiatan ekonomi maritim tradisional. Berbeda dengan pedalaman Jawa, Sumatera dan Kalimantan, yang berciri agraris atau kontinental.
Selain menangkap ikan, penduduk Batam yang disebut masyarakat Melayu (untuk membedakan dengan orang Tionghoa, masyarakat Melayu terdiri dari beragam etnis seperti etnis Melayu, Bugis, Jawa, Minang dan seterusnya) bekerja dengan berdagang, mencari kayu, membuat tembikar dan sebagainya. Sementara orang Tionghoa yang waktu itu dikenal dengan sebutan “Cina Kebun”, sebagian besar adalah imigran dari dataran Tiongkok, yang kemudian menetap di pedalaman hutan untuk membuka perkebunan karet, gambir sampai merica.
Banyaknya hutan bakau (mangrove) yang tumbuh subur di sepanjang pesisir Batam menjadi berkah bagi penduduk Batam waktu itu. Selain bekerja sebagai nelayan, sebagian penduduk menebangi hutan bakau dan mengolah kayunya menjadi arang. Kayu arang olahan penduduk Batam bernilai ekonomis tinggi dan sangat laku di Singapura. Sehingga kayu arang menjadi salah satu komoditas yang laris diperjualbelikan di Singapura. Arang menjadi bahan bakar yang banyak digunakan untuk memasak bagi warga Singapura.
Kebutuhan arang di Singapura umumnya dipasok dari Batam dan Kepulauan Riau. Arang tersebut dibawa oleh toke arang dengan menggunakan kapal kayu. Dalam beberapa hari sekali, toke bolak-balik Batam- Singapura. Pergi ke Singapura membawa arang dari kayu bakau, pulangnya toke tersebut membawa berbagai sembako yang dibutuhkan warga Batam. Transaksi masih dilakukan dengan cara tukar barang langsung (barter).
Penjualan kayu arang ini sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Pengiriman arang besar-besaran ke Singapura dilakukan pada era tahun 1960-an. Saat itu, penduduk Singapura sudah mulai ramai sehingga kebutuhan arang sangat besar. Arang diproduksi di beberapa lokasi pesisir di Batam. Dapur arang ini biasanya milik tauke. Kadang satu tauke arang memiliki beberapa dapur arang yang mempekerjakan beberapa orang. Ada juga tauke arang yang mengumpulkan arang-arang dari penduduk. Setelah cukup barulah dibawa ke Singapura.
Di antara lokasi dapur arang yang terkenal dan masih ditemukan sisa-sisa peninggalan sampai saat ini adalah di Dapur 12, Sagulung. Di daerah ini ada empat tungku atau dapur arang berukuran besar. Tingginya mencapai lima meter lebih dengan luas lebih dari 25 meter persegi. Dua dapur dibangun oleh ayah Samyong, tauke arang. Ayang Samyong sendiri merupakan warga Singapura yang hijrah ke Batam saat Samyong masih kecil. Di Batam ia mendirikan usaha dapur arang. Sementara dua dapur lagi sudah ada jauh sebelumnya.
Sedangkan menurut cerita warga yang berkembang saat ini, dulunya di Dapur 12, sesuai dengan namanya, ada sebanyak 12 dapur arang yang berukuran besar. Satu persatu dapur arang tersebut rusak dimakan usia dan hilang. Kini yang tersisa tinggal sisa-sisa bangunan dapur arang yang juga sudah rusak dimakan usia.
Warga Batam yang pernah menjadi tauke arang adalah (alm) Tony A Samyong (Sam Hiong), seorang penjuang pada zaman konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia. Dapur arang di Dapur 12 tersebut adalah milik ayah Samyong. Dapur tersebut sudah dibagun ayah Samyong sejak Samyong masih kecil. Samyong sendiri pada tahun 1947, saat itu berusia sekitar 12 tahun, sudah terjun membuat arang membantu bapaknya.
Selain di Dapur 12, keluarga Samyong juga memiliki dapur arang di Seijodoh. Waktu itu, dapur arang di Seijodoh merupakan satu-satunya. Sementara warga Batam lain waktu itu banyak bekerja sebagai nelayan yang menangkap ikan dengan kelong. Ada juga yang bekerja sebagai petani kebun.
Dapur arang ini ditemui di hampir semua pesisir Batam dan di muara sungai, seperti di Seijodoh, Duriangkang, Dapur 12, Sungai Buluh dan tempat lainnya. Tersebarnya hutan bakau di seluruh pesisir menjadikan bahan baku arang yaitu bakau tidak sulit didapatkan pekerja. Hal ini menjadikan mencari kayu bakau dan mengolahnya menjadi bakau adalah pekerjaan andalan bagi penduduk Batam, ketimbang berkebun.
Tujuan pendirian dapur arang di muara sungai ini untuk memudahkan mengangkut dan mengirimkan arang dengan perahu ke Singapura. ( Sumber Muhammad Natsir Tahar ). ( Edward Hasbullah ).

Kamis, 03 November 2016

KAMPUNG NONGSA BATAM

BATAM SELAYANG PANDANG

KAMPUNG NONGSA
Pusat Pemerintahan Pertama di Batam

Teluk Mata Ikan serta Baku Serip adaalah kampung yang menghimpit di kiri dan kanan tempat pemukiman Raja Isa atau Tengku Nong yang pada masa silam terkenal dengan "Pancungan Jenawi" Pusakanya. Beliau pernah bertarung melawan lanun-lanun ( Bajak Laut) dari Singapura, yakni orang-orang Tionghoa dari kelompok Bintang Tiga yang sering masuk ke daerah perairan Utara dan Barat pulau Batam. Pada zaman beliau menempati daerah ini beberapa kali percobaan yang dilakukan oleh kelompok Bintang Tiga diperairan ini dapat ditumpaskan oleh Raja Isa dan Hulubalangnya.

Selain orang Melayu yang tinggal di daerah ini, orang Bugis juga ramai yang berkebun kelapa sekitar Teluk Mata Ikan Nongsa dan Bakau Erip. Hingga pada tahun 1990 sebagian penduduknya telah dipindahkan ke kavling oleh Otorita Batam (OB) yang sekarang dikenal dengan nama Kavling Nongsa atau Kavling Sambau. Namun ada beberapa penduduk yang masih tetap tinggal di pinggiran pantai tepatnya di daerah pemukiman Tengku Nong yang dikenal dengan nama Bukit Makam Raja.

Sejarah telah mencatat, kampung ini pertama sekali dibuka oleh Raja Isa bersama pengikutnya dari Penyengat setelah mendapat mandat atas Nongsa dari kerajaan Riau Lingga pada tahun 1829. Nama kampung ini diambil dari nama timang-timangnya “Nong Isa” alias Tengku Nong. Nama Nong Isa lama kelamaan berubah menjadi Nongsa dan mengekal hingga sekarang.

Ramai orang berpendapat bahwa kampung ini merupakan kampung tertua di Batam yang juga merupakan pusat pemerintahan pertama di wilayah ini. Kampung Nongsa memiliki wilayah pemerintahan resmi di bawah kepemimpinan Nong Isa. Wilayah pemerintahannya juga membawahi kampung-kampung lainnya. Pungutan cukai dari hasil bumi kampung-kampung lainnya terlebih dahulu dikumpulkan di Nongsa sebelum dibawa ke ibukota Penyengat.
Sumber: Muhammad Natsir Tahar. ( Dogol ).
             Edward Hasbullah (Group FB Kawan BP Batam )


            

HIKAYAT KAMPUNG JODOH

Mengenang 45 Tahun Otorita Batam
Batam Selayang Pandang

HIKAYAT KAMPUNG JODOH
Puncak Amarah Awang Sandang

Sebutan nama Jodoh sangat dikenali oleh masyarakat Batam pada umumnya, Dan saya sendiri juga pernah kost dikawasan ini, tepatnya di depan Hotel Allium, dulu Wallabies kafe , sekarang jadi Go Masages. daerah ini sekarang menjadi pusat perbelanjaan dari berbagai daerah/ pulau Batam. Meskipun demikian Jodoh memiliki sejarah tersendiri yang menjadi bahan ingtan sepanjang masa.
Semasa pemerintahanan Raja Muhammad Yusuf yg berpusat di Kampung Melayu Jodoh pada tahun 1858 (YDMR X), tempat ini belum dinamai Jodoh.
Setelah kedatangan orang-orang Galang Ladi yang mengabdi kepada beliau untuk menebarkan jasanya bertugas sebagai Panglima dan Hulubalang dalam membantu menjaga keamanan setempat, maka terjadilah beberapa hal seperti pertarungan antara Panglima Ladi bernama Awang Sandang dengan pelaut-pelaut orang Bugis pada waktu itu. Kebiasaan mereka melakukan pertarungan di tanah datar Kampung tersebut setelah mendapat persetujuan raja, lalu mereka akan dijodohkan dengan tanding kebolehan beladiri di tempat terbuka dan dapat disaksikan oleh masyarakat ramai. Kebiasaan begini berlangsung hinggalah pada suatu hari Panglima Awang Sandang bertemu dengan jodoh tanding dengan Panglima Sampit dari Sulawesi, mereka meminta agar raja memberi keizinan mereka bertarung uji kebolehan. Namun setelah beberapa hari berlangsungnya pertarungan tersebut dan tidak ada yang menyatakan menang serta kalah, artinya sama-sama kuat. Akhirnya kedua belah pihak mengaku bersahabat, namun setelah raja menerima peminangan oleh Panglima Sampit terhadap putrinya, terjadilah kekecewaan pada Panglima Awang Sandang yang mana sebelumnya adalah merupakan kekasih dari Putri Mayang.

Dari rasa kesal inilah, maka tumbuh di hati Awang Sandang yang menyimpan dendam dan geram kepada sahabatnya. Hingga pada suatu hari saat akan dilangsungkan pesta pernikahan antara Panglima Sampit dan Putri Mayang, lalu berita ini didengar oleh Awang Sandang. Dengan puncak kemarahannya yang tidak dapat menahan kecewa, lalu meminta kepada raja untuk melakukan pertarungan sabung ayam dan hal ini disetujui oleh raja. Maka dicanangkanlah segenap Teluk dan Rantau bagi sesiapa yang memiliki ayam sabung agara dapat tampil diupacara pertandingan tersebut. Setelah peserta berdatangan membawa ayam yang dimaksud pertandinganpun dimulai, ketika Raja mempersilakan Awang Sandang melepaskan ayamnya, lalu dia berkata: “ampun tuanku, sembah patek harap diampun. Ayam yang hamba maksud adalah diri patek sendiri yang ingin bersabung dengan Panglima Sampit”. Mendengar hal ini, kemudian raja terdiam dan termenung seketika memikirkan berita menyabung ayam sudah tersiar kemana-mana.
Sedangkan permintaan dari Awang Sandang lain dari yang dimaksud, demikian pula halnya dengan Panglima Sampit yang tidak ingin dipermalukan, lalu mempersembahkan kepada Raja. “Ampon Tuanku, kalau itulah yang dimaksud Panglima Awang Sandang, maka Patek menerima tantangannya”. Mendengar tantangan dari lawannya, Awang Sandangpun mulai bertindak di luar dugaan semua pihak, yang tangan kirinya dengan cepat merangkul Putri Mayang di dalam pertarungan tersebut. Dan Panglima Sampit pun berhati-hati melakukan perlawanan itu, karena takut serangannya mencederai puteri dan setelah pertarungan berlangsung beberapa saat, kemudian dapat dileraikan oleh saudara Awang Sandang dari pengawal-pengawalnya. Namunpun demikian perjodohan antara Putri Mayang dengan Panglima Sampit tetap berlangsung dan resmilah mereka menjadi suami -istri.

Kekecewaan di pihak Awang Sandang masih terlintas dalam pikirannya, setelah mengatur strategi dan mengumpulkan para hulu balang orang-orang Ladi, lalu dia menyerang Kampung Jodoh yang didahului oleh para hulu balangnya untuk memporak-porandakan pertahanan Panglima Sampit, di dalam waktu kegerahan menentang orang-orang Ladi, maka kesempatan ini dimanfaatkan oleh Awang Sandang untuk masuk ke dalam istana tanpa dapat ditahan oleh pengawal, lalu membunuh Raja dan beberapa orang anaknya yang masih kecil serta melakukan perbuatan keji terhadap Putri Mayang sebelum melarikannya.

Dari kecerobohan itu, maka kekebalan dan kekuatan yang dimilikinya telah hilang dengan mudah dia dapat ditewaskan oleh Panglima Sampit lantaran keris yang dibenamkan ke tubuhnya langsung dapat menewaskan jiwanya. Setelah para pengikutnya melihat Awang Sandang tewas terkapar, maka mereka mundur dan menghentikan pertempuran. Dari kejadian ini orang-orang Ladi tidak lagi mempunyai pemimpin yang tangguh, lalu memutuskan untuk kembali ke tempat asal mereka di Kepulauan Sulit, dengan meninggalkan Kampungnya Teluk Bujang Rambang dan Sungai Ladi.

Pada masa sekarang ini daerah tersebut telah dijadikan pengembangan perumahan. Kampung Jodoh mempunyai beberapa anak sungai di antaranya Sungai Jodoh, Sungai Lubuk Tepi, Sungai Lubuk Tengah, dan Sungai Lubuk Baja. Adapun Sungai Jodoh sekarang tepatnya di tapak Nantongga Hotel, Sungai Lubuk Tepi digunakan sebagai saluran air yang dimulai dari Puri Garden (The Hill Hotel) ke arah Dana Graha dan Melia Panorama dan seterusnya ke pinggir laut. Sedangkan Lubuk Tengah ditimbun tapak Robinson, manakala Sungai Lubuk Baja ditimbun hulunya hingga ke muara lebih dikenal dengan Nagoya Point berhampiran Pasar Rakyat Tanjung Uma. Tidak heranlah masa sekarang ini, kita mendengar sebutan Lubuk Baja di berbagai tempat di Nagoya, karena diambil dari sempena nama sungai yang asli.

Sumber: Muhammad Natsir Tahar. ( Dogola
             Group Fb Kawan BP Batam